SOKOGURU, JAKARTA – PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) kembali menarik perhatian dunia internasional.
Kali ini, sekelompok mahasiswa dari Melbourne University, Australia melakukan kunjungan pendidikan ke kantor BSI sebagai bagian dari program studi banding ekonomi yang bekerja sama dengan Universitas Indonesia.
Kunjungan ini menunjukkan tingginya minat mahasiswa asing terhadap sistem keuangan syariah Indonesia, khususnya kepada BSI sebagai bank syariah terbesar di Tanah Air.
Baca juga: Investasi Emas di BSI Tembus Rp16,4 Triliun, Cicil Emas Naik 175% di Tengah Harga Melonjak
Keunikan dan ketangguhan sistem syariah yang dimiliki BSI dinilai mampu bertahan di tengah dinamika ekonomi global yang fluktuatif.
“Kami menyambut baik minat para mahasiswa asing untuk mengetahui industri keuangan syariah,” jelas Wakil Direktur Utama BSI, Bob T. Ananta dalam keterangan pers di Jakarta, Selasa (15/7/2025).
“BSI hadir atas dukungan pemerintah yang serius membangun ekonomi nasional melalui sistem yang halal, modern, digital, dan inklusif,” ujar Bob.
Tak Hanya Himpun Dana dan Salurkan Pembiayaan, BSI Usung Nilai Sosial
Dalam forum edukasi tersebut, para mahasiswa mendapat pemaparan mengenai peran BSI sebagai lembaga intermediasi yang tidak hanya berfokus pada penghimpunan dana dan penyaluran pembiayaan, tetapi juga mengusung nilai sosial dan spiritual.
BSI memiliki positioning unik sebagai Sahabat Finansial, Sosial, dan Spiritual.
Tidak hanya menawarkan solusi keuangan syariah, BSI juga aktif dalam kegiatan sosial lewat kontribusi zakat yang telah memberi manfaat kepada lebih dari 225 ribu penerima manfaat hingga Maret 2025—terutama di sektor pendidikan, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat.
Baca juga: BSI Dorong Indonesia Jadi Pusat Ekonomi Syariah Dunia Lewat Bank Emas dan Ekosistem Halal
Secara kinerja, BSI mencatat pertumbuhan positif. Aset perusahaan mencapai Rp401 triliun per Maret 2025, tumbuh 12% year on year, menjadikan BSI di atas rata-rata industri perbankan nasional.
Dorong Literasi Syariah dan Beasiswa Mahasiswa
Bob menambahkan bahwa literasi keuangan syariah di Indonesia masih perlu ditingkatkan.
Berdasarkan data OJK, indeks literasi syariah baru mencapai 43,42%, sementara inklusi keuangan syariah masih di angka 13,41%.
Untuk itu, BSI secara aktif menyelenggarakan berbagai program edukasi, seperti:
* CEO Mengajar di berbagai universitas unggulan,
* Partisipasi aktif dalam ISEF (Indonesia Sharia Economic Festival) dan
* Kegiatan SYAFIF (Sharia Financial Festival) yang digelar OJK.
Pendidikan menjadi sektor prioritas bagi BSI. Sejak 2021 hingga 2025, bank ini telah menyalurkan lebih dari 8.600 beasiswa bagi mahasiswa berprestasi dan tidak mampu melalui program BSI Scholarship.
Program ini bertujuan mencetak calon pemimpin muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki akhlak mulia.
Baca juga: BSI International Expo 2025 Siap Hadirkan Maher Zain dan Pameran Halal Terbesar di Jakarta
Tak hanya menerima mahasiswa, BSI juga kerap menerima kunjungan dari profesional, akademisi, dan regulator dari berbagai negara untuk berbagi wawasan serta membangun kolaborasi global dalam keuangan syariah.
“Setiap tahun, kami menerima banyak delegasi internasional. Bahkan, kami memberikan beasiswa kepada karyawan untuk studi lanjut ke Top 10 universitas dunia, termasuk Australia,” tambah Bob.
Terapkan ESG dan Maqashid Syariah
Dalam kunjungan tersebut, BSI juga memaparkan implementasi nilai-nilai maqashid syariah (tujuan syariah) dalam menjalankan bisnis.
BSI berkomitmen terhadap prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) sebagai bagian dari pembangunan ekonomi berkelanjutan.
Tiga pilar ESG yang dijalankan BSI meliputi:
* Sustainable Banking
* Sustainable Operation
* Sustainability Beyond Banking
Dengan langkah ini, BSI terus memperkuat posisinya sebagai bank syariah yang tidak hanya unggul dari sisi keuangan, tapi juga memberi dampak nyata bagi sosial dan lingkungan. (*)